Fitria Rahmaani ini semua untukmu Rabbi, saksikanlah ^^
وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
  • fitriarahmaani published a photo post 8 hours ago

    karena #selfie sudah terlalu mainstream, mari kita #selfoot

    Tegal, 3 Syawal 1435 H

    Archived in: #selfie #selfoot / 3 notes
    Show the 3 notes
  • fitriarahmaani published a photo post 2 days ago

    bawaeun buat mudik ternyata sebesar dan seberat bawaeun buat ngantor
    jadi .. selama ini ~

    #mudik

    Archived in: #mudik / 1 note
    Show the 1 notes
  • fitriarahmaani published a photo post 3 days ago

    Eid Fitr Mubarak (*¯︶¯*)

    Taqabbalallahu minna waminkum
    Shiyamana washiyamakum
    Aamiin

    1 note
    Show the 1 notes
  • fitriarahmaani reblogged a photo post 1 week ago
    837,447 notes
    Show the 837447 notes
  • fitriarahmaani reblogged a photo post 1 week ago

    noevitaikasari:

    gerypratama:

    zenpencils:

    If you love someone, set them free.

    da jodo mah moal kamamana

    Huahaha…..

    4,485 notes
    Show the 4485 notes
  • fitriarahmaani reblogged a quote post 1 week ago
    Kelak ketika kalian bersenang-senang karena berhasil menanggalkan seragam kalian. Kami para mahasiswa akan sangat bersyukur jika mampu diberi satu hari untuk mengenakannya kembali.
    - (via mbeeer)

    Miss those shool moments :’)

    82 notes
    Show the 82 notes
  • fitriarahmaani published a photo post 1 week ago

    "Bersiaplah untuk sendiri, ketika berukhuwah tak lagi mampu membiatmu untuk memaafkan kesalahan yang sama berulang kali." _mpit~

    2 notes
    Show the 2 notes
  • fitriarahmaani reblogged a quote post 1 week ago
    Perjuangkan sampai habis, doa sampai nangis.
    -

    (Isni Dalimunthe, 2014)


    THIS!!!

    (via nophaega)

    Cihuy! :D

    (via isnidalimunthe)

    THISSS!!!

    (via fitriadytaa)
    89 notes
    Show the 89 notes
  • fitriarahmaani reblogged a text post 1 week ago
    Menyeimbangkanmu

    Kamu berantakan dan aku terlalu rapi, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu tepat waktu sedang aku sering lupa waktu, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu cerdas dan aku biasa-biasa saja, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu pendiam lalu aku banyak bicara, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu suka membaca buku dan aku suka bernyanyi, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu sangat murah hati sementara aku pelit sekali, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu pandai mengaji dan aku biasa-biasa aja, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu pelupa sedangkan aku ingat setiap detil, bisakah kita menyeimbangkan?
    Kamu menyukai petualangan sementara aku lebih suka bepergian yang aman, bisakah kita menyeimbangkan?

    Kita tidak mesti sama dalam segala hal, kan? Kita bisa menyeimbangkan, kan?

    Bandung, 20 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

    bisa bisa insya Allah :”) #yakalimalahdijawab

    650 notes
    Show the 650 notes
  • fitriarahmaani reblogged a text post 1 week ago
    Cerpen : Nyanyian untuk Perempuan di Balik Pagar yang Tinggi

    Seorang perempuan duduk di balik pagar rumahnya. Berlindung dari setiap orang yang berlalu lalang. Mengunci pintu halamannya rapat. Ditutupinya setiap celah pagarnya dengan plastik-plastik gelap. Sehingga tidak ada mata yang bisa mengetahui dalamnya, tidak bisa mengintip isinya.

    Perempuan itu sejak beberapa tahun yang lalu duduk setiap pagi hingga sore hari di teras rumahnya. Tetap terlindung dari pagar yang tinggi. Rumput di halaman rumahnya telah tinggi, tidak pernah disiangi. Pohon-pohon berbuah dan buahnya jatuh sebab tidak pernah dipetik.

    Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari? Itu rahasia.

    Dulu pagar rumah ini tidak terkunci seperti ini. Aku masih bisa melihat apa yang ada di halaman rumahnya. Begitu rapi tertata, begitu memaksa perasaan orang yang lewat di depannya untuk singgah. Dan, tuan rumah yang begitu ramah.

    Kabarnya, suatu hari ada seorang pencuri masuk ke dalam rumah ini. Mengambil sesuatu yang paling berharga yang dimiliki rumah ini. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dikembalikan, kecuali Tuhan melahirkannya kembali sebagai bayi. Sesuatu yang tidak mungkin dibeli. Kau tahu apakah sesuatu itu? Dari dengar-dengar bisik orang, sesuatu yang hilang itu adalah “kehormatan”. Aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh, kan?

    Rumah itu kini terlindung dari setiap orang. Tuan rumah tidak lagi menerima tamu, siapapun. Setiap orang yang mengetuk pintu tidak lagi diterima. Sekalipun niatnya baik.

    Meski pada satu sisi, sang tuan rumah berharap ada yang mau berkunjung. Seperti dulu. Beramah tamah di teras rumah. Bermain di halaman yang luas. Tapi harapan itu tidak lagi disertai kepercayaan. Kepercayaan itu telah menguap. Seperti embun-embun pagi yang kalah oleh sinar matahari.

    Setiap hari aku duduk di luar pagar rumah itu, menenteng gitar dan bernyanyi. Duduk dari pagi hingga sore hari. Meski setiap orang yang berlalu lalang mengatakan aku gila, aku tidak peduli.

    Kata mereka, “rumah ini tidak lagi memiliki kehormatan. Untuk apa di datangi?”

    Aku hanya tersenyum. Enggan mendebat.

    Aku kembali bernyanyi. Berharap tuan rumah terhibur dengan suaraku yang parau. Berharap sang tuan rumah penasaran, siapa yang setiap hari menyanyi di luar pagarnya. Berharap satu hari, gembok pagar itu berkarat dan patah. Atau pagar itu roboh tertimpa pohon. Atau alasan-alasan lain yang membuatku memiliki alasan untuk masuk ke halamannya. Atau, aku berharap sang tuan rumah mengintip dari celah pagarnya karena penasaran padaku.

    Aku paham. “Kehormatan” rumah ini telah dicuri. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Mengapa setiap orang hanya menilai seperti itu. Bukan salah dia bila kehormatan itu hilang kan? Dia telah menjaganya. Tapi tetap saja di dunia ini banyak pencuri. Daripada sibuk berkhotbah tentang berbuat baik, berlindung dibalik jubah dan kopiah. Hanya berceramah di tempat-tempat suci. Cobalah terjun ke lembah-lembah dan berbicara di sana. Masalah yang terjadi sama sekali tidak akan selesai hanya dengan ceramah berjam-jam.

    Aku kembali bernyanyi. Caraku menyampaikan segala sesuatu kepada sang pemilik rumah. Aku berusaha menyakinkan bahwa hidupnya ini berharga. Bahwa tetap ada orang baik yang bersedia bertamu, bahkan mungkin tinggal lama dan bersama di dalamnya. Memperbaiki rumahnya. Mempercantik halamannya. Berusaha meyakinkan sang perempuan yang setiap hari duduk di teras rumah itu bahwa akan selalu ada orang yang bisa menerimanya. Aku salah satunya.

    Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari?

    Itu rahasia. Meski setiap orang mengira rumah ini kosong. Aku mengerti. Pemiliknya bersembunyi di balik pagar tinggi ini.Mungkin matanya menatap kosong. Pikirannya jatuh terpelanting. Tangannya mencabik-cabik dirinya sendiri. Menyalahkan Tuhan juga mungkin, tidak percaya pada-Nya, karena Dia begitu tega membebankan semua ini kepadanya.

    Setiap manusia gila kehormatan. Aku ingin membuatmu percaya bahwa tidak semua orang seperti itu. Aku salah satunya. Bilamana kamu akan membuka pagar rumahmu?

    Aku kembali bernyanyi.

    Bandung, 20 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

    172 notes
    Show the 172 notes